Kamis, 20 Oktober 2011

Inilah 6 Fakta Unik Mengenai P*ting Payudara

Semua orang memilikinya, namun orang bisa terkaget-kaget ketika melihat puting payudara. Aneh, bukan? Semua mamalia memiliki puting, karena hewan betina menggunakannya untuk menyusui anaknya. Hal inilah yang menyebabkan manusia juga merupakan bagian dari mamalia, karena kita juga melahirkan dan menyusui. Jadi, puting payudara bisa merupakan sesuatu yang sangat alami, tetapi juga sangat erotis. Anda ingin tahu fakta-fakta unik tentang puting payudara?

1. Puting adalah area yang erotis, dalam arti sangat sensitif terhadap sentuhan, dan bisa dirangsang secara seksual. Bila pria atau wanita sedang terangsang, hal ini bisa dilihat antara lain dari putingnya yang menegak. Tetapi, puting yang tegak tidak selalu berarti Anda sedang terangsang. Perubahan suhu juga bisa menstimulasi area ini untuk berdiri, terutama jika udara sedang dingin.

2. Tidak seperti penis yang sedang ereksi, yang membesar karena terisi dengan darah, puting yang ereksi disebabkan oleh otot-otot yang berkontraksi di bawah kulit. Kejadiannya sama seperti ketika bulu kuduk Anda berdiri saat Anda merasakan sesuatu yang seram. Hanya saja, pada puting, efeknya memang jauh lebih hebat. Beberapa wanita dan pria bahkan bisa orgasme hanya dari stimulasi puting payudara. Meskipun Anda tidak pernah mendapatkan orgasme hanya dari stimulasi puting, namun berfokus pada stimulasi puting biasa terjadi saat foreplay.

3. Sebagian orang (sekitar 1 dari 8 orang) memiliki puting “cadangan”, atau puting ketiga. Beberapa tokoh terkenal yang memiliki puting cadangan ini antara lain Lily Allen dan Mark Wahlberg. Mengapa pria memiliki puting? Jawabannya karena wanita juga memilikinya. Sejak masih di dalam kandungan hingga usia janin sekitar 14 minggu, ketika jenis kelamin mulai memisah, semua janin akan terlihat sama. Pria dan wanita dibentuk dari “template” yang sama, dan karenanya sama-sama memiliki puting.

4. Puting payudara tak ada yang sama. Masing-masing memiliki ukurannya sendiri. Beberapa orang bahkan memiliki puting yang masuk ke dalam, bukannya ke luar. Puting seperti ini tidak membahayakan kesehatan, namun membuat Anda akan sulit menyusui kelak. Warna puting juga bisa menjadi gelap akibat perubahan hormon yang disebabkan oleh kehamilan atau menyusui. Alat kontrasepsi juga bisa menyebabkan fluktuasi hormon, yang menggelapkan warna puting. Namun ada pula puting yang akan menjadi lebih gelap seiring bertambahnya usia.

5. Pada puting tidak tumbuh rambut, namun pada areola (area sekitar puting) biasanya ada. Anda baru perlu khawatir dengan tumbuhnya rambut pada payudara jika tumbuh secara tiba-tiba, tebal dan kasarnya tidak seperti biasanya, atau tumbuh langsung di puting, bukan pada areola. Jika tumbuhnya rambut pada areola mengganggu Anda, Anda bisa mencabutnya. Mencukur tidak disarankan.

6. Sebagian perempuan memiliki tonjolan-tonjolan pada areolanya (bagian berwarna kehitaman yang melingkari puting). Tonjolan ini disebut Montgomery Bodies, dan normal saja. Ada perempuan yang memiliki puting yang kecil dan areola yang lebar, yang lain sebaliknya. Apa yang disebut normal dalam hal payudara ternyata sangat luas. Jadi, Anda tak perlu khawatir soal itu. Yang wajib Anda lakukan adalah melakukan pemeriksaan payudara secara rutin, untuk mengetahui apakah ada benjolan yang bisa menyebabkan kanker payudara.

50 Jenis Dan Arti Dari Penyimpangan S*ksual

Manusia senantiasa mengembangkan daya khayalnya untuk menciptakan variasi aktivitas demi mendapatkan kenikmatan seksual. Dari sinilah timbul istilah kelainan seksual, meskipun ini bersifat subyektif, karena apa yang disebut kelainan bagi seseorang, bisa jadi merupakan kegiatan normal bagi yang lain.

1. ABLUTOPHILIA
Ini adalah perasaan terangsang kalau memikirkan mandi dengan air hangat.orang ini pasti mandinya lama.

2. ACROTOMOPHILIA
Tergila-gila dengan amputasi.bukannya orang ini senang diamputasi,tetapi ia bergairah kalau melihat tubuh manusia yang bagian tertentunya-misalnya kaki-sudah diamputasi.

3. AMAUROPHILIA
Punya kegemaran berhubungan seks dengan orang buta atau orang yang ditutup matanya.

4. ANACLITISM
Hubungan seks dimana salah satu pelakunya berpura-pura menjadi bayi dan diperlakukan seperti bayi juga.misalnya belajar pipis,mengenakan popok atau bermain boneka.

5. AUTAGONISTOPHILIA
Orang ini juga senang pamer diri,tapi agak berbeda dengan exhibitionist yg terang-terangan,dia lebih suka menciptakan suasana yang memudahkan orang lain untuk melihatnya telanjang.misalnya membiarkan tirai jendelanya terbuka dan ia akan berjalan2 di rumah sambil telanjang.

6. AUTOEROTIC ASPHYXIATION
Bahasa simpelnya mencekik dalam kegiatan seksual-biasanya onani-agar rasanya lebih nikmat.vokalis INXS.michael huthcence yang ditemukan tewas tergantung diduga bukan bermaksud bunuh diri taoi ingin mempraktekkan tekhnik ini.ups..

7. AUTOPEDERASTY
Suatu obsesei yang biasanya timbul pada masa puber,untuk memasukkan penis ke dalam lubang pantat sendiri.kan gak mungkin?lho,namanya saja obsesi.

8. BACKSWINGING
Ini adalah anal seks yang dilakukan dengan posisi si obyek yang digarap tidur tengkurap.

9. BASTINADO
Bentuk penyiksaan dengan cara memukuli telapak kaki berulang-ulang untuk memperoleh kepuasan seksual.

10. BELONEPHILIA
Bisa berbahaya.ini perasaan bergairah kalau melihat benda2 kecil dan tajam seperti jarum.orang ini juga merasa terangsang kalau ditindik.buat yang punya banyak piercing,saya mohon maaf ya…

11. BESTIALITY
Ini kegiatan berhubungan seks dengan binatang.kegiatan ini konon sudah dilakukan sejak jaman romawi kuno.mungkin karena pada waktu itu populasi manusia masih sedikit.

12. BDSM
Singkatan dari Bondage and Discipline,Sadism and Masochism.istilah ini berhubungan dengan permainan seks yang melibatkan ditimbulkannya rasa sakit untuk memperoleh kenikmatan.

13. BUKKAKE
Kegiatan yang berasal dari jepang.intinya seorang wanita dikubur di tanah sampai sebatas kepalanya saja lalu beberapa orang mengelilinginya melakukan masturbasi bersama-sama dan menembakkan ‘bisa’nya itu ke kepala si cewek.

14. C&B TORTURE
Cara2 penyiksaan terhadap penis dan dua teman bulatnya,yaitu digigit.dicubit,ditampar,ditarik sampai melar,disundut dan sebagainya.aduh..!!

15. CANDLING
Aktivitas pemuas kebutuhan seksual dengan cara melelehkan lilin cair yang masih panas ke bagian2tubuh tertentu.

16. CATAGELOPHILIA
Mungkin orang yang menderita ini adalah orang yang humoris.pasalnya,dia akan merasa terangsang kalau merasa dipermalukan.

17. CRHEMASTITOPHILIA
Penderita kelainan inipasti merasa di surga kalau tinggal di jakarta.ini adalah perasaan terangsangyang dirasakan orang kalau dirampok.

18. CLOT
Kegemaran mengintip wanita melakukan hal2 yang berhubungandengan menstruasi,misalnya cewek memasang pembalut ke vaginanya atau mencopotnya.

19. COPROPHILIA
Merasakan kenikmatan seksual dengan bermain-main dengan kotoran-tinja maksudnya.

20. COPROPHAGIA
Hampir sama dengan yang di atas.sama2 menyukai kotoran,tapi yang ini merasa puas kalau memakannya.yikkss…

21. CUTTING
Sesuai namanya,ini kegiatan menyanyat kulit untuk mendapatkan kepuasan seksual.

22. DACRYPHILIA
Carilah pasangan yang cengeng,ini kepuasan seksual yang dirasakan penderitanya kalau melihat pasangannya berlinang air mata.

23. DAISY CHAINING
Sekumpulan cowok berkumpul membentuk semacam lingkarandan saling memasturbasi satu sama lainnya.

24. DOGGING
Disebut juga park and ride. Ini kegiatan bercinta dalam mobil di tempat parkir yang terpencil dengan ditonton orang yang mengelilingi mobil itu.asal jangan kepergok hansip aja.

25. DOUCHING
Berasal dari bahasa perancis douche.ini berarti menyemprotkan air ke dalam vagina untuk memperoleh kenikmatan seksual.

26. ELECTROPHILIA
Sesuai namanya,dia terangsang kalau mendapatkan kejutan listrik.awas,jangan terlalu besar voltasenya.

27. EXHIBITIONISM
Perasaan puas yang timbul kalau memamerkan organ seksualnya atau melakukan aktivitas seksual di muka umum,seperti yang sering ditunjukkan pasangan baru.

28. FISTING
Memasukkan seluruh bagian tangan ke lubang pasangannya,umumnya vagina,tapi bisa gunakan imajinasi untuk lubang yang lain.kegiatan yang dilakukan oleh yang sudah ahli.

29. FLASHING
Penggemarnya suka memamerkan alatnya(bisa cowok,bisa cewek)di depan umum,mirip exhibitionist,tapi barangnya itu hanya dikeluarkan sekilas.kalau ada orang seperti itu di dekat anda dan anda tidak cermat,bisa2 anda melewatkan pemandangan langka itu.

30. FROTTAGE
Ini sering dilakukan oleh para lelaki yang sering naik kereta api dalam kota ataupun bus yang penuh sesak.orang ini mendapatkan kepuasan dengan menggesek-gesekkan anunya ke obyek terdekat,bukan bangku,tapi ke cewek2.

31. URTLING
Kegiatan menghidupkan tokoh di majalah anda.pada gambar cewek yang ada di majalah atau foto dilubangi pas di selangkangannya atau di bagian lain sesuai selera,lalu si pelaku akan memasukkan anunya ke lubang guntingan itu dan bermasturbasi dengannya.rasanya mungkin mendekati aslinya,tapi awas teriris kertas.

32. GYNOTIKOLOBOMASSOPHILIA
Tidak penting kalau anda tak bisa mengeja istilah super panjang dan rumit ini.yang penting anda tahu artinya,bahwa orang ini mempunyai kegemaran seksual memasukkan anunya ke dalam telinga pasangannya,cukup tidak cukup.

33. HUMMING
Ini variasi oral sex,dimana si cewek mengoral sambil menyenandungkan lagu favoritnya.yang dicari adalh sensasi vibrasi pada nada2 rendah yang ngebass.

34. HYBRISTHOPILIA
Kepuasan yang diperoleh setelah melampiaskan amarah,misalnya dengan memaki-maki atau bersumpah serapah.

35. KERAUNOPHILIA
Hati-hati kalau sedang berteduh di halte bus sewaktu hujan deras kalau ada yang mengidap kelainan ini,artinya kepuasan setelah setelah mendengar suara gemuruh kilat.

36. KLISMAPHILIA
Kenikmatan seksual yang diperoleh dengan cara memasukkan cairan pencuci perut melalui anus.

37. KNISMOLAGNIA
Perasaan terangsang kalau digelitiki sampai kegelian.

38. MAIESIOPHILIA
Penderitanya merasa bergairah kalau melihat wanita hamil.

39. NARRATOPHILIA
Kalau punya pasangan seperti ini anda perlu mengoleksi stensilan yang banyak.dia merasa terangsang kalau diceritakan kisah2 jorok oleh pasangannya.

40. NECROPHILIA
Ini dia,aktivitas menyetubuhi mayat.konon ini sudah dilakukan oleh orang2 mesir kuno.dalam beberapa kasus,mereka tidak memperbolehkan pembalsem mendekati mayat seseorang yang baru meninggal selama beberapa hari.rahasia pembuatan mumi terjawab?

41. OPHIDICISM
Kalau ini agak repot,mesti pergi dulu ke pet shop.ini kegiatan seks dengan memanfaatkan jasa reptil.misalnya ular tak berbisa atau juga bisa belut.

42. PRISON HUMPING
Ini bisa diterjemahkan menjadi bercinta ala tahanan dipenjara.ini kegiatan anal seks tanpa menggunakan minyak pelumas,mungkin bisa pakai ludah sedikit.

43. RIPPING
Terangsang kalau merobek celana atau stocking perempuan.

44. SNOWBALLING
Kalau si cewek masih mengulum sperma pasangannya(setelah oral)lalu mereka berciuman dan dia memindahkan cairan itu ke mulut pasangannya itu.

45. STIGMATOPHILIA
Sedikit beda dengan clot.kalau yang ini merasa terangsang kalau melihat darah yang keluar akibat menstruasi.

46. TEA BAGGING
Artinya teh celup.mencelupkan scrotum atau "kantung teh" anda ke mulut pasangan anda berulang-ulang.tapi ingat jangan diperas!

47. TRANSVESTIC FETISHISM
Laki2 yang senang mengenakan pakaian perempuan.bukan untuk mode,tapi untuk kepuasan seksual.

48. UTASSASSINOPHILIA
Seseorang merasakan kepuasan seksual kalau dia melakukannya sambil dia berkhayal bahwa dia sedang berada dalam situasi berbahaya yang bisa membuatnya tewas.

49. VOYEURISM
Perasaan terangsang yang didapat dari mengintip cewek telanjang atau pasangan yang sedang berhubungan seks.

50. WATER SPORTS
Mandi,minum ataupun bermain air seni pasangannya untuk mendapatkan kepuasan seksual.:beer:

Senin, 03 Oktober 2011

ETIKA PROFESI DAN TANGGUNG JAWAB PROFESI IT

ETIKA PROFESI DAN TANGGUNG JAWAB PROFESI IT

Kode etik profesi Informatikawan merupakan bagian dari etika profesi.Kode etik profesi merupakan lanjutan dari norma-norma yang lebih umum yang telah dibahas dan dirumuskan dalam etika profesi. Kode etik ini lebih memperjelas,mempertegas dan merinci norma-norma ke bentuk yang lebih sempurna walaupun sebenarnya norma-norma terebut sudah tersirat dalam etika profesi. Dengan demikian kode etik profesi adalah sistem norma atau aturan yang ditulis secara jelas dan tegas serta terperinci tentang apa yang baik dan tidak baik, apa yang benar dan apa yang salah dan perbuatan apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh seorang profesional. Tujuan utama dari kode etik adalah memberi pelayanan khusus dalam masyarakat tanpa mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok. Adapun fungsi dari kode etik profesi adalah :
1. Memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang digariskan.
2. Sebagai sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang bersangkutan
3. Mencegah campur tangan pihak diluar organisasi profesi tentang hubungan etika dalam keanggotaan profesi.

Etika profesi sangatlah dibutuhkan dalam berbagai bidang khususnya bidang teknologi informasi.Kode etik sangat dibutuhkan dalam bidang TI karena kode etik tersebut dapat menentukan apa yang baik dan yang tidak baik serta apakah suatu kegiatan yang dilakukan oleh IT-er itu dapat dikatakan bertanggung jawab atau tidak. Pada jaman sekarang banyak sekali orang di bidang TI menyalahgunakan profesinya untuk merugikan orang lain, contohnya hacker yang sering mencuri uang,password leat computer dengan menggunakan keahlian mereka. Contoh seperti itu harus dijatuhi hukuman yang berlaku sesuai dengan kode etik yang telah disepakati. Dan banyak pula tindakan kejahatan dilakukan di internet selain hacker yaitu cracker, dll. Oleh sebab itu kode etik bagi pengguna internet sangat dibutuhkan pada jaman sekarang ini.
Adapun kode etik yang diharapkan bagi para pengguna internet adalah :

1. Menghindari dan tidak mempublikasi informasi yang secara langsung berkaitan dengan masalah pornografi dan nudisme dalam segala bentuk.

2. Menghindari dan tidak mempublikasi informasi yang memiliki tendensi menyinggung secara langsung dan negatif masalah suku, agama dan ras (SARA), termasuk di dalamnya usaha penghinaan, pelecehan, pendiskreditan, penyiksaan serta segala bentuk pelanggaran hak atas perseorangan, kelompok / lembaga / institusi lain.

3. Menghindari dan tidak mempublikasikan informasi yang berisi instruksi untuk melakukan perbuatan melawan hukum (illegal) positif di Indonesia dan ketentuan internasional umumnya.

4. Tidak menampilkan segala bentuk eksploitasi terhadap anak-anak dibawah umur.

5. Tidak mempergunakan, mempublikasikan dan atau saling bertukar materi dan informasi yang memiliki korelasi terhadap kegiatan pirating, hacking dan cracking.

6. Bila mempergunakan script, program, tulisan, gambar / foto, animasi, suara atau bentuk materi dan informasi lainnya yang bukan hasil karya sendiri harus mencantumkan identitas sumber dan pemilik hak cipta bila ada dan bersedia untuk melakukan pencabutan bila ada yang mengajukan keberatan serta bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang mungkin timbul karenanya.

7. Tidak berusaha atau melakukan serangan teknis terhadap produk, sumber daya (resource) dan peralatan yang dimiliki pihak lain.

8. Menghormati etika dan segala macam peraturan yang berlaku di masyarakat internet umumnya dan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap segala muatan / isi situsnya.

9. Untuk kasus pelanggaran yang dilakukan oleh pengelola, anggota dapat melakukan teguran secara langsung.

Dan walaupun sudah ada kode etik diatas tetapi tidak semua para pengguna internet dan IT-er mematuhi kode etik tersebut diatas. Selain itu juga sanksi UU Teknik Informatika bagi para pelanggar kode etik profesi dalam bidang TI belum begitu tegas dan jelas.

Senin, 28 Maret 2011

makna tatto bagi orang suku pedalaman


JANGAN kaget jika masuk ke perkampungan masyarakat Dayak dan berjumpa dengan orang-orang tua yang dihiasi berbagai macam tato indah di beberapa bagian tubuhnya. Tato yang menghiasi tubuh mereka itu bukan sekadar hiasan, apalagi supaya dianggap jagoan. Tetapi, tato bagi masyarakat Dayak memiliki makna yang sangat mendalam.

TATO bagi sebagian masyarakat etnis Dayak merupakan bagian dari tradisi, religi, status sosial seseorang dalam masyarakat, serta bisa pula sebagai bentuk penghargaan suku terhadap kemampuan seseorang. Karena itu, tato tidak bisa dibuat sembarangan.

Ada aturan-aturan tertentu dalam pembuatan tato atau parung, baik pilihan gambarnya, struktur sosial orang yang ditato maupun penempatan tatonya. Meski demikian, secara religi tato memiliki makna sama dalam masyarakat Dayak, yakni sebagai "obor" dalam perjalanan seseorang menuju alam keabadian, setelah kematian.

Karena itu, semakin banyak tato, "obor" akan semakin terang dan jalan menuju alam keabadian semakin lapang. Meski demikian, tetap saja pembuatan tato tidak bisa dibuat sebanyak-banyaknya secara sembarangan, karena harus mematuhi aturan-aturan adat.

"Setiap sub-suku Dayak memiliki aturan yang berbeda dalam pembuatan tato. Bahkan ada pula sub-suku Dayak yang tidak mengenal tradisi tato," ungkap Mering Ngo, warga suku Dayak yang juga antropolog lulusan Universitas Indonesia.

Bagi suku Dayak yang bermukim di perbatasan Kalimantan dan Sarawak Malaysia, misalnya, tato di sekitar jari tangan menunjukkan orang tersebut suku yang suka menolong seperti ahli pengobatan. Semakin banyak tato di tangannya, menunjukkan orang itu semakin banyak menolong dan semakin ahli dalam pengobatan.

Bagi masyarakat Dayak Kenyah dan Dayak Kayan di Kalimantan Timur, banyaknya tato menggambarkan orang tersebut sudah sering mengembara. Karena setiap kampung memiliki motif tato yang berbeda, banyaknya tato menandakan pemiliknya sudah mengunjungi banyak kampung.

Jangan bayangkan kampung tersebut hanya berjarak beberapa kilometer. Di Kalimantan, jarak antarkampung bisa ratusan bahkan ribuan kilometer, dan harus ditempuh menggunakan perahu menyusuri sungai lebih dari satu bulan!

"Karena itu, penghargaan pada perantau diberikan dalam bentuk tato," tutur Ketua II Persekutuan Dayak Kalimantan Timur (PDKT), Yacobus Bayau Lung.

Bisa pula tato diberikan kepada para bangsawan. Di kalangan masyarakat Dayak Kenyah, motif yang lazim untuk kalangan bangsawan (paren) adalah burung enggang yakni burung endemik Kalimantan yang dikeramatkan.

Adapun bagi Dayak Iban, kepala suku beserta keturunannya ditato dengan motif "dunia atas" atau sesuatu yang hidup di angkasa. Selain motifnya terpilih, cara pengerjaan tato untuk kaum bangsawan biasanya lebih halus dan detail dibandingkan tato untuk golongan menengah (panyen).

Bagi subsuku lainnya, pemberian tato dikaitkan dengan tradisi mengayau atau memenggal kepala musuh dalam suatu peperangan. Tradisi ini sudah puluhan tahun tidak dilakukan lagi, namun dulunya semakin banyak mengayau, motif tatonya pun semakin khas dan istimewa.

Tato untuk sang pemberani di medan perang ini, biasanya ditempatkan di pundak kanan. Namun pada subsuku lainnya, ditempatkan di lengan kiri jika keberaniannya "biasa", dan di lengan kanan jika keberanian dan keperkasaannya di medan pertempuran sangat luar biasa.

"Pemberian tato yang dikaitkan dengan mengayau ini, dulunya sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan suku kepada orang-orang yang perkasa dan banyak berjasa," tutur Simon Devung, seorang ahli Dayak dari Central for Social Forestry (CSF) Universitas Mulawarman Samarinda.

TATO atau parung atau betik tidak hanya dilakukan bagi kaum laki-laki, tetapi juga kaum perempuan. Untuk laki-laki, tato bisa dibuat di bagian mana pun pada tubuhnya, sedangkan pada perempuan biasanya hanya pada kaki dan tangan.

Jika pada laki-laki pemberian tato dikaitkan dengan penghargaan atau penghormatan, pada perempuan pembuatan tato lebih bermotif religius.

"Pembuatan tato pada tangan dan kaki dipercaya bisa terhindar dari pengaruh roh-roh jahat dan selalu berada dalam lindungan Yang Maha Kuasa," ujar Yacobus Bayau Lung.

Pada subsuku tertentu, pembuatan tato juga terkait dengan harga diri perempuan, sehingga dikenal istilah tedak kayaan, yang berarti perempuan tak bertato dianggap lebih rendah derajatnya dibanding dengan yang bertato. Meski demikian, pandangan seperti ini hanya berlaku di sebagian kecil subsuku Dayak.

Pada suku Dayak Kayan, ada tiga macam tato yang biasanya di sandang perempuan, antara lain tedak kassa, yakni meliputi seluruh kaki dan dipakai setelah dewasa. Tedak usuu, tato yang dibuat pada seluruh tangan dan tedak hapii pada seluruh paha.

Sementara di suku Dayak Kenyah, pembuatan tato pada perempuan dimulai pada umur 16 tahun atau setelah haid pertama. Untuk pembuatan tato bagi perempuan, dilakukan dengan upacara adat di sebuah rumah khusus. Selama pembuatan tato, semua pria tidak boleh keluar rumah. Selain itu seluruh keluarga juga diwajibkan menjalani berbagai pantangan untuk menghindari bencana bagi wanita yang sedang ditato maupun keluarganya.

Motif tato bagi perempuan lebih terbatas seperti gambar paku hitam yang berada di sekitar ruas jari disebut song irang atau tunas bambu. Adapun yang melintang di belakang buku jari disebut ikor. Tato di pergelangan tangan bergambar wajah macan disebut silong lejau.

Ada pula tato yang dibuat di bagian paha. Bagi perempuan Dayak memiliki tato di bagian paha status sosialnya sangat tinggi dan biasanya dilengkapi gelang di bagian bawah betis.

Motif tato di bagian paha biasanya juga menyerupai silong lejau. Perbedaannya dengan tato di tangan, ada garis melintang pada betis yang dinamakan nang klinge.

Tato sangat jarang ditemukan di bagian lutut. Meski demikian ada juga tato di bagian lutut pada lelaki dan perempuan yang biasanya dibuat pada bagian akhir pembuatan tato di badan. Tato yang dibuat di atas lutut dan melingkar hingga ke betis menyerupai ular, sebenarnya anjing jadi-jadian atau disebut tuang buvong asu.

Baik tato pada lelaki maupun perempuan, secara tradisional dibuat menggunakan duri buah jeruk yang panjang dan lambat-laun kemudian menggunakan beberapa buah jarum sekaligus. Yang tidak berubah adalah bahan pembuatan tato yang biasanya menggunakan jelaga dari periuk yang berwarna hitam.

"Karena itu, tato yang dibuat warna-warni, ada hijau, kuning dan merah, pastilah bukan tato tradisional yang mengandung makna filososfis yang tinggi," ucap Yacobus Bayau Lung.

Tato warna-warni yang dibuat kalangan pemuda kini, hanyalah tato hiasan yang tidak memiliki makna apa-apa. Gambar dan penempatan dilakukan sembarangan dan asal-asalan. Tato seperti itu sama sekali tidak memiliki nilai religius dan penghargaan, tetapi cuma sekadar untuk keindahan, dan bahkan ada yang ingin dianggap sebagai jagoan.

Selasa, 08 Maret 2011

definisi &ciri-ciri wirausahawan

1.Wirausahawan adalah:Seseorang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilaipeluang,mengatur sumber daya yang di butuhkan serta mengambil tindakan yang tepat, guna memastikan suksessecara berkelanjutan.

2.wirausahawan adalah :sebagai orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menyusun cara baru dalam berproduksi, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, mengatur permodalan operasinya, serta memasarkannya

3.Sedangkan Louis Jacques Filion menggambarkan wirausahawan sebagai orang yang imajinatif, yang ditandai dengan kemampuannya dalam menetapkan sasaran serta dapat mencapai sasaran-sasaran itu. Ia juga memiliki kesadaran tinggi untuk menemukan peluang-peluang dan membuat keputusan.

4. Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan serta menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.

5.Kewirausahaan dalam arti proses yang dinamis adalah kewirausahaan merupakan sebuah proses mengkreasikan dengan menambahkan nilai sesuatu yang dicapai melalui usaha keras dan waktu yang tepat dengan memperkirakan dana pendukung, fisik, dan resiko social, dan akan menerima reward yang berupa keuangan dan kepuasan serta kemandirian personal.

Cirri-ciri wirausahawan

1.percaya diri

2.berorientasi pada tugas dan hasil

3.keberanian mengambil resiko

4. kepemimpinan

5.berorientasi ke masa depan

6. kreatif inovatif

Selasa, 19 Oktober 2010

Resiko Proyek Teknologi Informasi

Resiko Proyek Teknologi Informasi

Setiap Organisasi memiliki tujuan, dalam era digital ini otomasi sistem informasi dan teknologi informasi digunakan sebagai dukungan untuk mencapai tujuan tersebut. Manajemen resiko memegang peranan penting sebagai tindakan perlindungan bagi aset informasi dan seluruh hal yang berkaitandengan Teknologi informasiImplementasi Teknologi Informasi (TI) di suatu perusahaan atau organisasi sebagai basis dalam rangka penciptaan layanan yang berkualitas dan optimalisasi proses bisnis sangatlah beresiko. Resiko timbul manakala penerapan TI tidak mampu membantu perusahaan dalam mencapai tujuan bisnisnya. Pengelolaan resiko membutuhkan manajemen resiko yang baik dengan mengacu pada best practice framework manajemen resiko seperti pendekatan manajemen resiko yang ada pada COBIT, Rekomendasi NIST Special Publication 800-30 dan OCTAVE.
Perusahaan di negara berkembang dengan tingkat penetrasi TI rendah seperti pembangunan infrastruktur TI yang
belum memadai, kekurangan SDM TI dan lemahnya industri perangkat lunak memerlukan suatu model framework
yang lebih sederhana dan mudah dalam melakukan implementasi manajemen resiko dalam perusahaannya. Model
framework manajemen resiko yang dihasilkan terdiri dari proses identifikasi resiko (sumber resiko, kejadian resiko,
dampak resiko), analisa resiko (tingkat kecenderungan dan besarnya dampak resiko), respon resiko (hilangkan
resiko, kurangi resiko, cegah resiko atau transfer resiko) dan evaluasi resiko (adakah sisa resiko atau resiko baru).

1. PENDAHULUAN
Untuk mencapai tujuan bisnisnya, seringkali perusahaan-perusahaan menggunakan teknologi informasi sebagai basis dalam penciptaan layanan yang berkualitas ataupun dalam optimalisasi proses bisnisnya. Namun penerapan teknologi informasi memerlukan perencanaan yang strategis agar penerapannya dapat selaras (alignment) dengan tujuan bisnisnya. Jika penerapan TI tidak sesuai dengan arah bisnis perusahaan, maka hal inilah yang akan menimbulkan resiko. Resiko yang timbul akibat penerapan TI yang salah akan menyebabkan proses bisnis yang tidak optimal, kerugian finansial, menurunnya reputasi perusahaan, atau bahkan hancurnya bisnis perusahaan.
Oleh karena itu diperlukan suatu pengukuran terhadap resiko penerapan TI bagi perusahaan.
Pengukuran resiko TI berguna untuk mengetahui profil resiko TI, analisa terhadap resiko, kemudian melakukan respon terhadap resiko tersebut sehingga tidak terjadi dampak-dampak yang dapat ditimbulkan
oleh resiko tersebut.
Banyak sekali metode atau framework yang bisa dijadikan sebagai best practice dalam penerapanmanajemen resiko TI. Diantaranya dengan menerapkan COBIT (Control Objectives for Information and Related Technology), OCTAVE (Operationally Critical Threat, Asset, and Vulnerability Evaluation ), NIST Special Publication
800-30 atau framework manajemen resiko lainnya.
Namun penerapan framework tersebut tidak akan selalu sama untuk setiap perusahaan. Karena
perbedaan karakteristik bisnis yang dijalankan.
Penelitian ini memodelkan framework manajemen resiko dalam penerapan TI di dalam organisasi
ataupun perusahaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran yang lebih sederhana
dan mudah dalam menerapkan frameworkframework manajemen resiko yang telah ada.
Framework-framework manajemen resiko yang menjadi bahan dalam penelitian ini adalah COBIT
(Control Objectives for Information and Related Technology), NIST Special Publication 800-30 dan
OCTAVE (Operationally Critical Threat, Asset, and Vulnerability Evaluation ).

2. KARAKTERISTIK TI PERUSAHAAN DI NEGARA BERKEMBANG
Penerapan TI pada perusahaan di negara berkembang
masih belum optimal, hal ini disebabkan karena :

1. Pembangunan infrastruktur TI yang belum memadai. Sebagai contoh pembangunan telekomunikasi di negara-negara berkembang yang terhambat disebabkan oleh faktor kebijakan dan regulasi, faktor keuangan, kondisi politik,
SDM dan sebagainya[7].
2. Sumber Daya Manusia (SDM) TI yang masih kurang. Kebutuhan SDM TI untuk indonesia hingga tahun 2010 diperkirakan sebanyak 320.000 orang[8].
3. Lemahnya Industri Perangkat Lunak. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya :
butuh SDM dengan kualifikasi teknik tinggi, sumber-sumber informasi pengembangan piranti
lunak tidak didapatkan di bangku kuliah, dukungan finansial yang relatif kecil, dan masih
adanya pembajakan piranti lunak[9].

Dari ketiga hal faktor yang menyebabkan rendahnya penentrasi TI, maka diperlukan suatu pemodelan
framework manajemen resiko yang dapat membantu perusahan-perusahaan TI di negara berkembang
untuk lebih mengenal resiko yang ada, mencoba untuk menganalisa resiko sehingga bisa memilih
respon terhadap resiko dengan tepat.

3. FRAMEWORK-FRAMEWORK MANAJEMEN RESIKO TI

3.1. COBIT
COBIT (Control Objectives for Information and Related Technology) merupakan standard yang dikeluarkan oleh ITGI (The IT Governance Institute)[1]. COBIT merupakan suatu koleksi dokumen dan framework yang diklasifikasikan dan secara umum diterima sebagai best practice untuk tata kelola (IT Governance), kontrol dan jaminan TI.
Referensi perihal manajemen resiko secara khusus dibahas pada proses PO9 dalam COBIT. Prosesproses
yang lain juga menjelaskan tentang manajemen resiko namun tidak terlalu detil.

Framework

GAMBAR 2.1. Framework Manajemen Resiko COBIT

Resiko adalah segala hal yang mungkin berdampak pada kemampuan organisasi dalam mencapai tujuantujuannya.
Framework manajemen resiko TI dengan menggunakan COBIT (gambar 2.1) terdiri dari :

1. Penetapan Objektif
Kriteria informasi dari COBIT dapat digunakan sebagai dasar dalam mendefinisikan objektif TI.
Terdapat tujuh kriteria informasi dari COBIT yaitu :
effectiveness, efficiency, confidentiality, integrity, availability, compliance, dan reliability.
2. Identifikasi Resiko

TABEL 2.1. KEJADIAN (EVENTS) YANG MENGGANGU
PENCAPAIAN OBJEKTIF PERUSAHAAN

Tabel

Identifikasi resiko merupakan proses untuk mengetahui resiko. Sumber resiko bisa berasal dari :
• Manusia, proses dan teknologi
• Internal (dari dalam perusahaan) dan eksternal
(dari luar perusahaan)
• Bencana (hazard), ketidakpastian (uncertainty)
dan kesempatan (opportunity).
Dari ketiga sumber resiko tersebut dapat diketahui kejadian-kejadian yang dapat mengganggu perusahaan dalam mencapai objektifnya (tabel 2.1).

3. Penilaian Resiko
Proses untuk menilai seberapa sering resiko terjadi atau seberapa besar dampak dari resiko (tabel 2.2).
Dampak resiko terhadap bisnis (business impact) bisa berupa : dampak terhadap financial, menurunnya
reputasi disebabkan sistem yang tidak aman, terhentinya operasi bisnis, kegagalan aset yang dapat
dinilai (sistem dan data), dan penundaan proses pengambilan keputusan.

Sedangkan kecenderungan (likelihood) terjadinya resiko dapat disebabkan oleh sifat alami dari bisnis,
struktur dan budaya organisasi, sifat alami dari sistem (tertutup atau terbuka, teknologi baru dan lama), dan
kendali-kendali yang ada. Proses penilaian resiko bisa berupa resiko yang tidak dapat dipisahkan
(inherent risks) dan sisa resiko (residual risks).

TABEL 2.2. TINGKATAN BESARNYA DAMPAK RESIKO
DAN FREKUENSI TERJADINYA RESIKO

TbL

4. Respon Resiko
Untuk melakukan respon terhadap resiko adalah dengan menerapkan kontrol objektif yang sesuai
dalam melakukan manajemen resiko. Jika sisa resiko masih melebihi resiko yang dapat diterima
(acceptable risks), maka diperlukan respon resiko tambahan. Proses-proses pada framework COBIT
(dari 34 Control Objectives) yang sesuai untuk manajemen resiko adalah :
• PO1 (Define a Stretegic IT Plan) dan PO9 (Assess and Manage Risks)
• AI6 (Manages Change)
• DS5 (Ensure System and Security) dan DS11 (Manage Data)
• ME1 (Monitor and Evaluate IT Performance)

5. Monitor Resiko
Setiap langkah dimonitor untuk menjamin bahwa resiko dan respon berjalan sepanjang waktu.

3.2. NIST Special Publication 800-30

Frmjpg

GAMBAR 2.2. Proses-Proses Manajemen Resiko

NIST (National Institute of Standard and Technology ) mengeluarkan rekomendasi melalui publikasi khusus 800-30 tentang Risk Management Guide for Information Technology System[2]. Terdapat tiga proses dalam manajemen resiko
(gambar 2.2) yaitu :
• Proses Penilaian Resiko (Risk Assessment).
Terdapat sembilan langkah dalam proses penilaian
resiko yaitu :
1. Mengetahui karakteristik dari sistem TI : Hardware, software, sistem antarmuka (koneksi internal atau eksternal), data dan informasi, orang yang mendukung atau menggunakan sistem, arsitektur
keamanan sistem, topologi jaringan sistem,
2. Identifikasi Ancaman yang mungkin menyerang kelemahan sistem TI. Sumber ancaman bisa berasal dari alam, manusia dan lingkungan.
3. Identifikasi kekurangan atau kelemahan (vulnerability) pada prosedur keamanan, desain,
implementasi, dan internal kontrol terhadap sistem sehingga menghasilkan pelanggaran terhadap kebijakan keamanan sistem.
4. Menganalisa kontrol – kontrol yang sudah diimplementasikan atau direncanakan untuk
diimplementasikan oleh organisasi untuk mengurangi atau menghilangkan kecenderungan (kemungkinan) dari suatu ancaman menyerang sistem yang vulnerable.
5. Penentuan Kecenderungan (likelihood) dari kejadian bertujuan untuk memperoleh penilaian
terhadap keseluruhan kecenderungan yang mengindikasikan kemungkinan potensi vulnerability diserang oleh lingkungan ancaman yang ada.
6. Analisa dampak yang kurang baik yang dihasilkan dari suksesnya ancaman menyerang vulnerability.
Seperti loss of integrity, loss of availability, dan loss of confidentiality. Pengukuran dampak dari
resiko TI dapat dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif. Dampak tersebut dapat diklasifikasikan
menjadi 3 bagian yaitu : high, medium dan low.
7. Penentuan Level Resiko. Penentuan level resiko dari Sistem TI yang merupakan pasangan
ancaman/vulnerability merupakan suatu fungsi :
• Kecenderungan suatu sumber ancaman
menyerang vulnerability dari sistem TI.
• Besaran dampak yang akan terjadi jika sumber
ancaman sukses menyerang vulnerability dari
sistem TI.
• Terpenuhinya perencanaan kontrol keamanan
yang ada untuk mengurangi dan menghilangkan
resiko.
8. Rekomendasi – rekomendasi untuk mengurangi
level resiko sistem TI dan data sehingga mencapai
level yang bisa diterima.
9. Dokumentasi hasil dalam bentuk laporan.

• Proses Pengurangan Resiko (Risk Mitigation). Strategi di dalam melakukan pengurangan resiko
misalnya dengan menerima resiko (risk assumption), mencegah terjadinya resiko (risk avoidance),
membatasi level resiko (risk limitation), atau mentransfer resiko (risk transference). Metodologi
pengurangan resiko berikut menggambarkan pendekatan untuk mengimplementasikan kontrol :
1. Memprioritaskan aksi. Berdasarkan level resiko yang ditampilkan dari hasil penilaian resiko,
implementasi dari aksi diprioritaskan. Output dari langkah pertama ini adalah ranking aksi-aksi
mulai dari tinggi hingga rendah
2. Evaluasi terhadap kontrol yang direkomendasikan. Pada langkah ini, Kelayakan
(misal kompatibilitas, penerimaan dari user) dan efektifitas (misal tingkat proteksi dan level dari
pengurangan resiko) dari pilihan-pilihan kontrol yang direkomendasikan dianalisa dengan tujuan
untuk meminimalkan resiko. Output dari langkah kedua adalah membuat daftar kontrol-kontrol
yang layak
3. Melakukan cost-benefit analysis. Suatu costbenefit analysis dilakukan. untuk menggambarkan biaya dan keuntungan jika mengimplementasikan atau tidak mengimplementasikan kontrol – kontrol tersebut.
4. Memilih kontrol. Berdasarkan hasil cost-benefit analysis, manajemen menentukan kontrol dengan biaya paling efektif untuk mengurangi resiko terhadap misi organisasi.
5. Memberikan tanggung jawab. Personil yang sesuai (personil dari dalam atau personil yang dikontrak dari luar) yang memiliki keahlian dan ketrampilan ditugaskan untuk mengimplementasikan
pemilihan kontrol yang diidentifikasi, dan bertanggung jawab terhadap yang ditugaskan.
6. Mengembangkan rencana implementasi safeguard yang minimal mengandung informasi
tentang resiko (pasangan vulnerability/ ancaman) dan level resiko (hasil dari laporan penilaian
resiko), kontrol yang direkomendasikan (hasil dari laporan penilaian resiko, aksi-aksi yang
diprioritaskan (dengan prioritas yang diberikan terhadap pilihan level resiko tinggi atau sangan
tinggi), pilih kontrol yang telah direncanakan (tentukan berdasarkan kelayakan, efektifitas,
keuntungan terhadap organisasi dan biaya), sumberdaya yang dibutuhkan untuk
mengimplementasikan pilihan kontrol yang telah direncanakan, buat daftar staf dan personil yang
bertanggung jawab, tanggal dimulainya implementasi, tanggal target penyelesaian untuk
implementasi dan Kebutuhan untuk perawatan.

7. Implementasikan kontrol yang dipilih. Tergantung pada situasi tertentu, kontrol yang dipilih akan menurunkan resiko tetapi tidak menghilangkan resiko. Output dari langkah ketujuh adalah sisa resiko.
• Proses Evaluasi Resiko (Risk Evaluation) Pada proses ini dilakukan evaluasi apakah
pendekatan manajemen resiko yang diterapkan sudah sesuai. Kemudian dilakukan penilaian resiko kembali
untuk memastikan keberadaan resiko yang teridentifikasi maupun resiko yang belum
teridentifikasi

3.3. OCTAVE

Gfr

Framework manajemen resiko (gambar 2.3)
menggunakan pendekatan OCTAVE (Operationally Critical Threat, Asset, and Vulnerability Evaluation )
[3] adalah :

1. Identifikasi
Identifikasi merupakan proses transformasi ketidakpastian dan isu tentang seberapa baik aset
organisasi dilindungi dari resiko. Tugas yang harus dilakukan adalah identifikasi profil resiko (aset kritis,
ancaman terhadap aset, kebutuhan keamanan untuk aset kritis, deskripsi tentang dampak resiko pada
organisasi, dan komponen infrastruktur utama yang berhubungan dengan aset kritis) dan identifikasi
informasi organisasi (kebijakan, praktek dan prosedur keamanan, kelemahan teknologi dan kelemahan
organisasi saat ini ).
2. Analisa
Analisa merupakan proses untuk memproyeksikan bagaimana resiko-resiko ekstensif dan bagaimana
menggunakan proyeksi tersebut untuk membuat skala prioritas. Tugas dalam proses analisa adalah
melakukan evaluasi resiko (Nilai-nilai untuk mengukur resiko- dampak dan peluang) dan skala
prioritas resiko (pendekatan pengurangan resiko, menerima atau mengurangi resiko)

3. Perencanaan
Perencanaan merupakan proses untuk menentukan aksi-aksi yang akan diambil untuk meningkatkan
postur dan perlindungan keamanan aset kritis tersebut. Langkah dalam perencanaan adalah mengembangkan
strategi proteksi, rencana mitigasi resiko, rencana aksi, budget, jadwal, kriteria sukses, ukuran-ukuran
untuk monitor rencana aksi, dan penugasab personil untuk implementasi rencana aksi.
4. Implementasi
Implementasi merupakan proses untuk melaksanakan aksi yang direncanakan untuk meningkatkan
keamanan sistem berdasarkan jadwal dan kriteria sukses yang didefinisikan selama perencanaan resiko.
Implementasi menghubungkan antara perencanaan dengan monitor dan kontrol.
5. Monitor

Proses ini memonitor jejak rencana aksi untuk menentukan status saat ini dan meninjau ulang data
organisasi sebagai tanda adanya resiko baru dan perubahan resiko yang ada. Langkah dalam proses
monitor adalah melakukan eksekusi rencana aksi secara lengkap, mengambil data (data untuk melihat
jalur rencana aksi terkini, data tentang indikator resiko utama) dan laporan-laporan terkini dan
indikator resiko utama.
6. Kontrol
Mengontrol resiko adalah proses yang didesain agar personil melakukan penyesuaian rencana aksi dan
menentukan apakah merubah kondisi organisasi akan menyebabkan timbulnya resiko baru. Langkah dalam
proses monitor resiko adalah analisa data (analisa laporan terkini dan analisa indikator resiko),
membuat keputusan (keputusan tentang rencana aksi dan keputusan tentang identifikasi resiko baru), dan
melakukan eksekusi keputusan (mengkomunikasikan keputusan, mengimplementasikan perubahan rencana
aksi, dan memulai aktifitas identifikasi resiko).

4. MODEL FRAMEWORK MANAJEMEN RESIKO TI
Model framework manajemen resiko TI (gambar 2.4)
terdiri dari :

1

1. Identifikasi Resiko
Proses identifikasi resiko (gambar 3.1) terdiri dari sumber resiko, kejadian (event) yang dapat
menyebabkan resiko dan dampak yang dihasilkan jika resiko itu terjadi (effect). Sumber resiko dan
kelemahan (vulnerability) ini akan menjadi sumber
ancaman (threat source) (tabel 3.1).

2

2. Analisa Resiko
Setelah sumber dan kejadian yang menyebabkan resiko teridentifikasi, maka dilakukan analisa resiko
yaitu menilai level resiko dan membuat ranking resiko dengan mempertimbangkan faktor
kecenderungan (likelihood) dan besarnya dampak resiko (impact). Pendekatan analisa resiko dapat
secara kualitatif atau kuantitatif. Level kecenderungan dan dampak dapat dikategorikan
sesuai variasi yang ada, misalnya menjadi high, medium dan low seperti yang ada pada NIST dan
OCTAVE.
3. Respon Resiko
Berdasarkan hasil analisa resiko, maka dilakukan perencanaan aksi yang ingin dilakukan terhadap
resiko. Apakah akan menghilangkan resiko (risk retention), mengurangi resiko (risk reduction) hingga
mencapai tingkat yang dapat diterima (acceptable level), mencegah resiko (risk avoidance) atau
mentransfer resiko (risk transfer). Hasil perencanaan ini kemudian diimplementasikan oleh personil yang
ditunjuk berdasarkan prioritas resiko, jadwal, budget dan kontrol yang telah ditetapkan.
4. Evaluasi Resiko
Proses ini berfungsi untuk mengetahui apakah implementasi kontrol terhadap resiko sudah sesuai,

sumber http://endriputro.wordpress.com

Web Features RANK

Web Features RANK

WBS adalah sebuah deliverable – orientated collection of project Component
• Menampilkan gambar / grafik tentang hirarki proyek
• WBS bisa diartikan sebagai teknik untuk :
• Membagi keseluruhan proyek kedalam komponen-komponen
• Memecah komponen ke level-level berikutnya sampai dengan tugas
• Setiap tugas yang dimaksud merupakan unit yang dapat dikelola (direncanakan, dianggarkan, dijadwalkan dan dikendalikan) / Manageable unit
Sebuah proyek yang komplek agar mudah dikendalikan harus diuraikan dalam bentuk komponen-komponen individual dalam struktur hirarki, yang dikenal dengan Work Breakdown Structure (WBS).

Pada dasarnya WBS merupakan suatu daftar yang bersifat top down dan secara hirarkis menerangkan komponen-komponen yang harus dibangun dan pekerjaan yang berkaitan dengannya.
Struktur dalam WBS mendefinisikan tugas-tugas yang dapat diselesaikan secara terpisah dari tugas-tugas lain, memudahkan alokasi sumber daya, penyerahan tanggung jawab, pengukuran dan pengendalian proyek. Pembagian tugas menjadi sub tugas yang lebih kecil tersebut dengan harapan menjadi lebih mudah untuk dikerjakan dan diestimasi lama waktunya.Sebagai gambaran, Work breakdown structure (WBS) dapat diilustrasikan seperti diagram blok berikut:















Model WBS memberikan beberapa keuntungan, antara lain :

  • Memberikan daftar pekerjaan yang harus diselesaikan

  • Memberikan dasar untuk mengestimasi, mengalokasikan sumber daya, menyusun jadwal, dan menghitung biaya

  • Mendorong untuk mempertimbangkan secara lebih serius sebelum membangun suatu proyek .

Dikarenakan WBS merupakan struktur yang bersifat hirarki, maka bisa juga disampikan dalam bentuk skema sebagai berikut :














Perbedaan Level Dan Tingkat Kedetailan WBS

Setiap organisasi menggunakan terminologinya sendiri untuk mengklasifikasi komponen WBS sesuai levelnya dalam hirarki. Sebagai contoh, beberapa organisasi memperlihatkan level-level yang berbeda sebagai tugas (task), sub-tugas (sub-task) dan paket pekerjaan (work package) sebagaimana yang ditunjukkan dalam bagan diatas. Sementara organisasi lain mungkin menggunakan istilah fase (phase), entri (entry) dan aktifitas (activity).

WBS mungkin saja disusun mengikuti pembagian atau pentahapan dalam siklus hidup proyek ( the project life cycle). Level-level yang lebih tinggi dari struktur umumnya dikerjakan oleh kelompok-kelompok. Level yang paling rendah dalam hirarki seringkali terdiri dari aktifitas-aktifitas dilakukan secara individual, kendati demikian sebuah WBS yang menitikberatkan pada “deliverabletidak memerlukan aktifitas-aktifitas yang spesifik.

Melakukan rincian sebuah proyek ke dalam bagian-bagian komponen yang lebih kecil akan memudahkan pembagian alokasi sumber daya dan pemberian tanggung jawab individual. Perlu kiranya memberi perhatian pada penggunaan detail level yang layak ketika hendak membuat WBS.Dalam kondisi ekstrim, detail level yang sangat tinggi akan menyerupai hasil dalam manajemen mikro. Sedangkan kondisi ekstrim kebalikannya,tugas-tugas mungkin akan menjadi demikian lebar untuk bisa di-managesecara efektif. Kendati demikian, menetapkan tugas-tugas dalam pekerjaan yang berdurasi beberapa hari maupun beberapa bulan merupakan hal yang baik di hampir kebanyakan proyek.

Peran WBS Dalam Perencanaan Proyek

WBS merupakan pondasi untuk perencanaan proyek. WBS dibuat sebelum ketergantungan diidentifikasi dan lamanya aktifitas pekerjaan diestimasi. WBS juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi tugas-tugas dalam model perencanaan proyek. Oleh karena itu, idealnya rancangan WBS sendiri harusnya telah diselesaikan sebelum pengerjaan perencanaan proyek (project plan) dan penjadwalan proyek (project schedule).

Dengan memanfaatkan daftar pekerjaan pada WBS, akan dapat diperkirakan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap pekerjaan tersebut. Perkiraan bisa dilakukan dengan mempertimbangan beberapa hal, antara lain ketersediaan sumber daya dan kompleksitas.

Selanjutnya dilakukan penjabaran dalam kalender (flow time). Beberapa model pendekatan bisa digunakan untuk menghitung perkiraan waktu yang diperlukan :

Most optimistic : Merupakan waktu ideal untuk menyelesaikan pekerjaan, diasumsikan segala sesuatunya berjalan lancar, dan sempurna.

Most likely : Merupakan waktu yang dibutuhkan pada kondisi kebanyakan, tipikal dan normal.

Most pessimistic :Merupakan waktu yang dibutuhkan ketika keadaan paling sulit terjadi.

Selanjutnya, estimasi waktu dilakukan dan dibagi dalam unit (misal 8 jam/hari). Estimasi waktu untuk suatu proyek Intranet (seperti contoh diatas) lebih sulit dari proyek pengembangan aplikasi lainnya. Hal ini karena masih sedikit proyek yang dapat digunakan sebagai patokan menghitung waktu pelaksanaan.

Dalam mengestimasi waktu ini juga harus dipertimbangkan beberapa hal, misal pengalaman teknologi server yang digunakan, keahlian Perl, CGI, Java, HTML, browser, dan juga bekerja dalam lingkungan TCP/IP.

Setelah WBS berhasil disusun dan perkiraan lama waktu pelaksanaan telah dihitung, selanjutnya dilakukan penyusunan jadwal kerja. Pada dasarnya ada dua jenis model deskripsi penjadwalan, yaitu :

§ Bar Chart : Yang hanya menerangkan flow time dari setiap pekerjaan dan tanpa keterkaitan antar pekerjaan. Deskripsi ini paling baik digunakan pada presentasi

§ Network diagram : Yang menunjukkan keterkaitan antar tugas dan mengidentifikasi saat kritis pada jadwal.

sumber : google